1.
ALAM
SEMESTA DAN ISINYA BAIK, MIKROKOSMOS MAUPUN MAKROKOSMOS
Alam
semesta terdiri dari semua materi termasuk tenaga dan radiasi serta segala hal
yang telah di ketahui dan baru dalam tahap percaya bahwa pasti ada di
antariksa. Bumi, bulan, planet-planet dan matahari yang termasuk dalam tata
surya hanyalah titik kecil diantara 200 milyar bintang penyususn galaksi bima
sakti. Perhitungan sampai angka 200 milyar bintang ini merupakan perkiraan
untuk sebuah galaksi (yakni galaksi bima sakti yang mempunyai garis tengah
sekitar 100.000 tahun cahaya.
Pengertian alam semesta mencakup tentang mikrokosmos
dan makrokosmos. Mikrokosmos adalah benda-benda yang mempunyai ukuran yang
sangat kecil, misalnya atom, elektron, sel, amuba, dan sebagainya. Sedangkan
makrokosmos adalah benda-benda yang ukurannya sangat besar, misalnya bintang,
planet, galaksi. Namun para ahli astronomi menggunakan istilah alam
semesta dalam pengertian tentang ruang angkasa dan benda-benda langit yang ada
didalamnya. Alam semesta atau universum dalam terminologi ilmu astronomi adalah
ruang angkasa dengan segala zat dan energi yang ada didalamnya
Konsep manusia mengenai apa yang dimaksud alam
semesta telah berubah secara radikal sepanjang zaman. Pada mulanya, mereka
meletakkan Bumi sebagai pusat alam semesta. Selanjutnya, mereka menemukan bahwa
Bumi hanyalah sebuah planet, dan yakin bahwa mataharilah sebagai pusat.
Kemudian mereka menyadari bahwa Matahari hanyalah sebuah bintang biasa, yang
merupakan anggota dari sebuah gugusan bintang yang disebut galaksi dan meyakini
bahwa galaksi inilah Alam Semesta. Setelah itu, mereka menemukan lagi bahwa
galaksi ini hanyalah satu dari sedemikian banyak galaksi yang membentuk alam
semesta. Kenyataan inilah yang kita yakini saat ini.
2. TEORI
TERBENTUKNYA ALAM SEMESTA
Manusia berusaha memahami alam semesta ini dari
zaman dahulu bahkan sampai sekarang. Pada jaman kejayaan Yunani, orang percaya
bahwa Bumi merupakan pusat dari alam semesta ini ( Geosentrisme ). Namun,
berkat pengamatan dan pemikiran yang lebih tajam, pandangan itu berubah sejak
Zaman abad pertengahan yang dipelopori oleh Copernicus menjadi Heliosentrik,
yaitu matahari menjadi pusat beredarnya bumi dan planet-planet lain.
Pengertian alam semesta itu sendiri mencakup tentang
Mikrokosmos dan Makrokosmos. Mikrokosmos ialah benda-benda yang mempunyai
ukuran yang sangat kecil, misalnya atom, elektron, sel, amoeba, dan
sebagainya.Sedangkan makrokosmos ialah benda-benda yang mempunyai ukuran yang
sangat besar, misalnya bintang, planet ataupun galaksi. Dengan diperolehnya
berbagai pesan dan beraneka ragam cahaya dari benda-benda langit yang sampai di
bumi.
Teori-teori tersebut ialah sebagai berikut:
1. Teori Keadaan Tetap (Steady–state
Theory)
Teori ini dikemukakan oleh Fred Hoyle, herman bondi,
thomas Gold ( 1948 ). Teori ini berdasarkan prinsip osmologi sempurna yang
menyatakan bahwa alam semesta, dimana pun dan bilamanapun selalu sama.
Berdasarkan prinsip tersebutlah alam semesta terjadi pada suatu saat tertentu
dimasa yang telah lalu sampai sekarang. Segala sesuatu di alam semesta ini
selalu tetap sama walaupun galaksi-galaksi saling bergerak menjauhi satu sama
lain. Teori ini ditunjang oleh kenyataan, bahwa galaksi baru mempunyai jumlah
yang sebanding dengan galaksi lama.Dengan kata lain bahwa tiap-tiap galaksi
yang terbentuk, tumbuh, menjadi tua, dan akhirnya mati, jadi, teori ini
beranggapan bahwa alam semesta itu tak terhingga besarnya dan tak terhingga
tuanya ( Tanpa awal dan tanpa akhir ).
2. Teori Ledakan Besar (Big Bang Theory)
Teori ledakan ini bertolak dari asumsi adanya suatu
massa yang sangat besar dan mempunyai berat jenis yang juga sangat besar.
Kemudian massa tersebut meledak dengan hebat karena adanya reaksi inti (George
Lemaitre, 1930). Massa itu kemudian berserak mengembang dengan sangat cepatnya
menjauhi pusat ledakan. Setelah berjuta-juta tahun, massa yang berserak itu
membentuk kelompok-kelompok galaksi yang ada sekarang. Mereka harus bergerak
menjauhi titik pusatnya. Teori ini didukung oleh kenyataan dari pengamatan
bahwa galaksi-galaksi itu memang bergerak menjauhi titik pusat yang sama.
Selain itu, teori ini didukung oleh pakar astronomi Arno Penzias dan Robert
Wilson yang menemukan radiasi gelombang mikro.
B. TEORI TERBENTUKNYA GALAKSI DAN TATA
SURYA
1. Galaksi
Ada satu Hipotesis (dugaan sementara yang harus
teruji kebenarannya sehingga ia menjadi teori), yaitu hipotesis Fowler (1957),
menurutnya 12 ribu tahun yang lalu, galaksi kita tidak seperti keadaan seperti
sekarang ini, ia masih berupa kabut gas hidrogen yang sangat besar yang berada
di ruang angkasayang bergerak perlahan melakukan rotasi sehingga keseluruhannya
berbentuk bulat, karena gaya beratnya maka ia mengadakan kontraksi dan
kondensasi sambil terus berputar pada sumbunya. Saat kontraksi massa bagian
luar banyak yang tertinggal. Bagian yang berkisar (berputar) lambat dan
mempunyai berat jenis yang besar akan membentuk bintang-bintang. Dengan cara
yang sama bagian luar yang tertinggal juga mengadakan kondensasi sehingga
terbentuklah planet. Demikian juga planet membentuk satelit bulan. Galaksi,
tempat matahari kita berinduk diberi nama MILKY WAY atau BIMA SAKTI.
Macam-Macam Galaksi
Dari hasil pengamatan selanjutnya, ternyata di alam
semesta terdapat beribu-ribu galaksi dengan berbagai bentuk dan ukuran yakni :
a. Galaksi Elips
Galaksi Elips merupakan galaksi yang sudah tua,
terbentuk dari bintang-bintang yang sudah tua, lebih redup dibandingkan tipe
spiral dengan banyak bintang merah besar, pambentukan bintang baru sudah
berhenti.
b. Galaksi Spiral
Galaksi Spiral berbentuk spiral amat besar dengan
inti di tengah (nukleus)dan lengan spiral dan cakram (disk). Pada lengan ini
terkonsentrasi debu dan gas (nebulae) dimana terdapat pembentukan bintang
aktif, bila dilihat dari samping, galaksi ini tampak seperti elips berlengan
dan dikelilingi atmosfer bercahaya, serta terdapat lingkaran-lingkaran kumpulan
beribu-ribu bintang yang disebut Globular Cluster. Jumlah galaksi ini kurang lebih
80% dari galaksi yang ada. Salah satu contoh galaksi spiral adalah galaksi
Canes Venatici.
c. Galaksi Tak Beraturan
Galaksi Tak Beraturan terdiri dari bermiliar-miliar
bintang muda berwarna putih kebiruan dan bintang raksasa biru yang sangat
panas. Diantara bintang-bintang tersebut bertebaran gas dan debu luar angkasa.
Banyaknya galaksi berbentuk tak beraturan ialah 3%.
Bima Sakti
Induk dari matahari kita ialah galaksi Bima Sakti
atau Milky Way, karena berdasarkan pengamatan, Galaksi Bima Sakti bila dilihat
dari atas berwujud seperti spiral raksasa yang berputar. Dari samping terlihat
seperti elips yang sangat besar. Bintang-bintang bertebaran dalam lengan
spiral, diantaranya matahari kita. Jaraknya 30.000 tahun cahaya dari pusat
galaksi atau 20.000 tahun cahaya dari ujung atau pinggir galaksi. Galaksi Bima
Sakti bergaris tengah 100.000 tahun cahaya. Makin ke tengah, tebaran bintang
makin merapat dan diperkirakan pusat galaksi merupakan bola bintang raksasa
sehingga galaksi ini berbentuk bulat pipih seperti kue cucur.
2. Tata Surya
Terdiri dari benda-benda seperti meteor-meteor,
planet, satelit, komet-komet, debu dan gas antar planet yang beredar
mengelilingi matahari sebagai pusatnya. Banyak teori yang dikemukakan tentang
terbentuknya tata surya namun dari beberapa teori tersebut belum ada satu pun
yang diterima oleh semua pihak, teori-teori tersebut diantaranya :
a. Hipotesis Nebular
Dikemukakan oleh Kant dan Laplace (1796) yang
meyakini terbentuknya tata surya merupakan kondensasi awan panas atau kabut gas
yang sangat panas, yang sebagian terpisah dan merupakan cicin yang mengelilingi
pusat. Pusatnya itu menjadi sebuah bintang atau matahari. Bagian yang
mengelilingi pusat tersebut berkondensasi membentuk suatu formula yang serupa
dengan terbentuknya matahari tadi, setelah mendingin, benda-benda ini akan
menjadi planet-planet seperti bumi dengan benda-benda yang mengelilinginya.
b. Hipotesis planettesimal
Dikemukakan oleh Chamberlain dan Moulton. Hipotesis
ini bertitik tolak dari pemikiran yang sama dengan teori Nebular yang
menyatakan bahwa system tata surya terbentuk dari kabut gas yang sangat besar,
berkondensasi, perbedaannya ialah terletak pada asumsi bahwa terbentuknya
planet-planet itu tidak harus dari satu badan, tetapi diasumsikan adanya
bintang besar lain yang kebetulan sedang lewat di dekat bintang yang merupakan
bagian dari tata surya kita. Kabut gas dari bintang lain itu sebagian
terpengaruh oleh daya tarik matahari kita dan setelah mendingin terbentuklah
benda-benda yang disebut Planettesemal. Planettesemal merupakan benda-benda
kecil yang padat. Teori ini merupakan jawaban dari pertanyaan mengapa ada
satelit-satelit pada Jupiter maupun saturnus yang orbitnya berlawanan rotasi
planet itu.
c. Teori Tidal atau teori pasang surut
Dikemukakan oleh James dan Harold Jeffreys (1919).
Menurutnya planet merupakan pecikan dari matahari yang disebut Tidal. Tidal
yang besar akan menjadi planet baru disebabkan karena bergerak mendekatnya dua
matahari, hal ini jarang sekali terjadi. Seperti dalam teori diatas bahwa dua
bintang yang saling mendekat akan membentuk planet yang baru.
d. Teori Bintang Kembar
Berpendapat bahwa dulu matahari adalah sepasang
bintang kembar. Oleh suatu sebab salah satu bintang meledak akibat gaya tarik
gravitasi, bintang yang satunya sekarang menjadi matahari, pecahannya tetap
beredar mengelilinginya.
e. Teori Creatio Continua
Dikemukakan Fred Hoyle, Bondi dan Gold. Berpendapat
bahwa saat diciptakan alam semesta ini tidak ada, alam semesta ada dan
selamanya tetap ada setelah diciptakan. Setiap saat ada partikel yang
dilahirkan dan ada yang lenyap, yang kemudian mengembun menjadi kabut, bintang
dan jasad alam semesta, karena partikel yang lebih besar daripada partikel yang
lenyap, maka jumlah materi makin bertambah dan mengakibatkan pemuaian alam
semesta. Penegmbangan tersebut mencapai titik batas 10 milyar tahun, dalam
kurun waktu tersebut akan menghasilkan kabut-kabut baru. Teori ini berpendapat
bahwa 90 % materi alam semesta ialah hedrogen yang akhirnya membentuk helium
dan zat-zat lainnya.
f. Teori G.P. Kuiper (1950)
Teori ini didasari keadaan yang ditemui di luar tata
surya yang mengandaikan matahari serta semua planet berasal dari gas purba di
ruang angkasa, proses terlahirnya bintang dikarenakan banyaknya kabut gas, yang
lambat laun memampatkan diri menjadi massa yang semakin lama semakin padat
dikarenakan gaya gravitasi molekul tersebut. Satu atau dua materi memadat di
tengah dan gumpalan kecil melesat di sekeitarnya. Gumpalan tengah menjadi
matahari dan gumpalan kecil menjadi bakal planet. Matahari yang sudah menjadi
padat menyala dengan adanya api nuklir dan kemudian mendorong gas yang masih
membungkus planet menjadi sirna sehingga tampak telanjang.
1. Susunan Tata Surya
Tata Surya berarti adanya suatu organisasi yang
teratur dengan matahari sebagai induk. Pada zaman yunani kuno, orang-orang
yunani mengenal lima planet yang dilakukan dengan pengamatan secara kasar,
planet tersebut ialah Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus dengan bumi
sebagai pusatnya, namun pada abad ke-16 Nicolas Copernicus ( ilmuwan Polandia )
berhasil mengubah pandangan salah yang dianut selama berabad-abd tersebut,
menurutnya bumi ialah planet sama halnya seperti planet lain, bumi beredar
mengelilingi matahari sebagai pusatnya ( heliosentris ), pandangan tersebut
didasari perhitungan yang sistematis yakni berkat bantuan teropong sebagai alat
pengamat dan dengan berkembangnya matematika dan fisika sebagai sarana
penunjang sehingga dapat mengamati planet-planet lainnya termasuk planet Pluto
sebagai planet terjauh.
Planet-planet dapat dikelompokan menjadi dua, yakni
planet dalam dan planet luar. Planet dalam yakni planet yang dekat dengan
matahari, yakni : merkurius, venus, bumi dan mars. Planet Luar yakni terdiri
dari Jupiter, Saturnus, Uranus, neptunus dan Pluto. Planet dalam umumnya lebih
kecil dari [lanet luar, namun mempunyai massa jenis yang lebih besar.
Peredaran planet mengelilingi matahri disebut gerak
revolusi. Disamping itu planet-planet beredar mengelilingi sumbunya disebut
gerak rotasi yang menyebabkan timbulnya peredaran siang dan malam. Gerak
revolusi dan gerak rotasi searah jarum jam yakni dari timur ke barat. Waktu
untuk satu putaran revolusi disebut kala revolusi yakni 365 ¼ hari dan waktu
satu putaran rotasi disebut kala rotasi yakni 24 jam.
2. Bagian-Bagian Tata Surya
Tata surya terdiri dari matahari sebagai pusat dan
benda-benda lain seperti planet , satelit, meteor, komet, debu dan gas
antarplanet beredar mengelilinginya. Keseluruhan sistem ini bergerak
mengelilingi pusat galaksi. Planet merupakan suatu benda yang dingin, sinarnya
yang tampak kemilau dari bumi itu, tidak lain ialah cahaya matahari yang
dipantulkan. Jadi, tidak ubahnya seperti bulan purnama. Sebelum kita mengenal
masing-maisng planet tersebut secara lebih mendalam, sebaiknya kita bicarakan
lebih dahulu tentang matahari sebagai pusat tata surya.
Matahari
Matahari ialah suatu bola gas pijar yang terdiri
dari 49% atom hidrogen (H) dan 5,6% atom helium (He), serta sisanya campuran
unsur-unsur karbon (C ) dan atom lainnya. Bentuk matahari ternyata tidak bulat
benar. Ia mempunyai semacam ekuatoe dan kutub, karena gerak rotasinya. Garis
tengah ekuatorialnya 864.000 mil, sedangkan garis tengah antarkutubnya 43 mil
lebih pendek.
Matahari juga merupakan tata surya yang paling besar
karena 98% massa tata surya terkumpul pada matahari. Di samping sebagai pusat
peredaran, matahari juga merupakan sumber-sumber tenaga di lingkungan tata
surya. Matahari terdiri dari inti dan tiga lapisan kulit, masing-maisng
fotosfer, kromosfer dan korona.
Menurut perhitungan para pakar, temperatur di
permukaan matahari sekitar 6.0000 C. jenis batuan atau logam apa pun yang kita
kenal di bumi akan lebur pada tempera tur setinggi itu. Temperatur tertinggi
terletak di bagian tengahnya, yang diperkirakan tidak kurang dari 25 juta 0C.
Lapisan bola matahari bagian dalam disebut fotosfer
(bahasa Yunani, photos: cahaya, sphera: bola), yang artinya bola bercahaya
memancar, radiasi fotosfer sangat kuat pad agelombang tampak mata. Sedangkan
atmosfer bumi dapat meloloskan panjang gelombang tampak mata. Mata manusia
sangat sensitif terhadap panjang gelombang tampak mata ini. Fotosfer tebalnya
kira-kira 220 mil.
Kromosfer (bahasa Yunani, chromos; warna, sphera:
bola). merupakan lapisan luar dari fotosfer. Warnanya kemerahan berasal dari
hidrogen yang berpijar. Lapisan ini mempunyai lidah-lidah api yang menjilat ke
laur. Tebal kromosger kira-kira 9.000 mil. Lapisan lebih luar dari kromosfer
ialah korona. Korona berupa sinar kemilauan yang tebalnya kadang-kadang meleihi
garis tengah matahari itu sendiri. Korona tampak jelas (berwarna putih perak)
mengelilingi matahari pada waktu terjadi gerhana matahari, karena fotosfer dan
kromosfer terhalang oleh bulan.
Matahari sangat penting bagi kehidupan di muka bumi
karena :
1) Merupakan sumber energi (sinar
panas). Energi yang terkandung dalam batbara dan minyak bumi sebenarnya juga
berasal dati matahari;
2) Mengontrol stabilitas peredaran bumi
yang juga berarti mengontrol terjadinya siang dan malam, bulan, tahun serta
mengontrol peredarana planet lainnya.
1. Planet Merkurius
Planet merkurius merupakan planet terkecil dan
terdekat dengan matahari. Merkurius tidak mempunyai satelit atau bulan dan juga
hawa atau udara. Planet ini mengandung albedo, yaitu perbandingan antara cahaya
yang dipantulkan dengan yang diterima dari matahari sebesar 0,07. Ini berarti
0,93 atau 93% cahaya yang berasal dari matahari diserapknya.
Garis tengahnya 4.500 km lebih besar daripada garis
tengah bulan yang hanya 3.160 km. karena letaknya yang begitu dekat dengan
matahari maka bagian yang menghadap matahari sangat panas, sebaliknya yang
tidak menghadap matahari dingin sekali. Hal ini disebabkan karena Merkurius
tidak memiliki atmosfer dan bulan (satelit). Diperkirakan tidak ada kehidupan
sama sekali di Merkurius.
Merkurius mengadakan rotasi dalam waktu 58,6 hari.
Ini berarti panjang siang harinya lebih dari 28 hari, demikian juga pada malam
harinya. Merkurius mengelilingi matahari dalam waktu 88 hari.
2. Planet Venus
Planet ini dinamakan Venus karena bila dilihat dari
bumi merupakan planet yang paling banyak memantulkan cahaya matahari akibat
sifat dari permukaanya. Orang Yunani menganggap keadaan planet itu sangat
cantik seperti dewi kecantikan mereka (Venus).
Planet ini lebih kecil dari bumi, mempunyai albedo
0,8 atau 20% cahaya matahari yang datang akan diserapnya. Planet ini diliputi
awan tebal (atmosfer) yang mungkin terjadi dari karbon dioksida, tetapi tidak
mengandung uap air dan oksigen. Planet ini juga tidak mempunyai satelit.
Venus menempati urutan kedua terdekat dengan
matahari. Planet ini terkenal sebagai bintang kejora yang bersinar terang pada
waktu sore atau pagi hari. Besarnya hampir sama dengan bumi, bergaris tengah
12.320 km, sedangkan bumi bergaris tengah 12.640 km. rorasi Venus kurang lebih
247 hari dan berevolusi (mengelilingi matahari) selama 225 hari, artinya 1
tahun venus adalah 225 hari.
Dengan analisis spektrum atas cahaya yang datang
dari Venus, dapat diketahui bahwa di sana terdapat oksigen. Atas dasar analogi
bahwa keberadaan gas oksigen yang tetap jumlahnya di udara disebabkan oleh
tumbuhan yang mengadakan fotosintesis maka dapat diperkirakan bahwa di Venus
pun ada kehidupan. Rotasi Venus berlawanan dengan rotasi bumi, bumi berotasi
dengan arah barat-timur, sedangkan venus rotasinya timur-barat.
3. Planet Bumi dan Bulannya
a. Bumi
Bumi menempati urutan ketiga terdekat dengan
matahari. Besarnya hampir sama dengan venus dan bergaris tengah 7.900 mil atau
12.646 km.jarak antara bumi dengan matahari ialah 149 juta km. jarak
ini dijadikan satuan jarak astronomical Unit (AU). Jadi, 1 AU = 149 juta km.
Bumi mengadakan rotasi 24 jam, berarti satu hari
bumi lamanya ialah 24 jam, sedangkan satu hari venus ialah 247 kali dari bumi,
yakni 247 x 24 jam. Bumi mengadakan revolusi selama 365 ¼ hari. Satu kali
putaran mengelilingi matahari disebut juga satu tahun . sekarang mari kita
bandingkan dengan 1 tahun merkurius = 88 hari bumi, sedangkan 1 tahun mars =
1,9 tahun bumi. Berat jenis rata-rata bumi ialah 5,52.
b. Bulan
Bulan merupakan satu-satuan satelit bumi dan tidak
memiliki atmosfer. Jarak bulan dengan bumi adalah 240 ribu mil= 384 ribu km dan
bargaris tengah 2.160 mil atau 3,456 km. jarak terjauh bulan dari pusat bumi
406.700 km dan jarak terdekatnya 356.400 km.
Pada permukaan bulan, terdapat gunung-gunung dan
dataran rendah seperti bumi. Namun lubang-lubang kepundannya tampak besar-besar
sampai ada yang bergaris tengah 8 km.
Oleh karena bulan tidak beratmosfer maka raut
permukaan bulan tetap abadi sebab tidak ada erosi. Tidak adanya atmosfer dapat
dibuktikan dengan tidak dibiaskannya sama sekali sinar bintang yang datangnya
dari belakang bulan ke bumi. Sinarnya merupakan pantulan sinar matahari sehinga
dengan pantulan itu permukaan bulan dapat berubah-ubah. Perubahan penampakan
bulan disebut fase. Fase bulan terjadi karena bulan mengitari bumi (revolusi).
Ada delapan fase bulan, yakni :
a. Fase bulan baru, terjadi pada
kedudukan dengan urutan matahari bulan-bumi (konjungsi)
b. Fase bulan sabit, terjadi pada
kedudukan setelah konjungsi dan akan memasuki kedudukan kuartir
c. Fase bulan setengah penuh, terjadi
pada kedudukan bulan-bumi tegak lurus pada matahari –bumi (kuartir)
d. Fase bulan bungkuk, terjadi pada
kedudukan setelah kuartir dan akan memasuki kedudukan oposisi
e. Fase bulan purnama, terjadi pada
kedudukan dengan urutan matahari bumi-bulan (oposisi)
f. Fase bulan bungkuk, terjadi pada
kedudukan oposisi dan akan memasuki kedudukan kuartir
g. Fase bulan setengah penuh, terjadi
pada kedudukan bulan bumi tegak lurus pada matahari-bumi
h. Fase bulan sabit, terjadi pada
keadaan setelah kuartir dan akan memasuki kedudukan konjungsi.
Dalam kalender yang mendasarkan pada peredaran bulan
sebagai acuannya, tanggal diambil pada saat bulan baru atau disebut bulan mati.
Pada saat tersebut bulan berada diantara bumi dan matahari sehingga tidak ada
cahaya matahari yang bisa dipantulkan bulan ke bumi. Kemudian, karena bulan
bergerak mengelilingi bumi, makin lama semakin banyak permukaan bulan yang
tampak disinari matahari., bulan mulai kelihatan sebagai bulan sabit. Dan ini
langsung sampai sekitar tanggal 7, yakni saat bulan dalam keadaan setengah
penuh. Antara tanggal 7 dan tanggal 15, permukaan bulan yang disinari matahari
semakin banyak. Keadaan ini disebut bulan bungkuk.
Saat bulan purnama, yaitu sekitar tanggal 14, bumi
berada diantara bulan dan matahari. Pada kedudukan ini bulan bersinar penuh,
karena bulan berada persis di belakang bumi, apabila dilihat dari matahari.
Setelah bulan purnama berlangsung, bulan memasuki fase bungkuk lagi, kemudian
menjadi setengah penuh pad atangga 21, dan menjadi bulan sabit lagi sampai
bulan baru berikutnya.
Perhitungan tahun menurut bulan mengelilingi bumi
disebut perhitungan qamariah (bahasa Arab, qamar = bulan). Penanggalan Hijriah
dasarnya adalah peredaran bulan mengelilingi bumi. Perhitungan kapan mulai
bulan baru dan kapan pula akhirnya bulan ramadhan bagi umat islam menjadi
sangat penting. Meningat pada bulan ramadhan umat Islam berpuasa, kemudian
setelah bulan Ramadhan berakhir, umat islam dilarang berpuasa. Oleh sebab itu,
pemeluk agama Islam harus mengetahui secara tepat kapan mulai dan kapan
berakhirnya bulan Ramadhan tersebut. Perhitungan tahun menurut peredaran bumi
mengitari matahari disebut perhitungan Syamsiah (bahan arab, Syam = matahari).
Contohnya penanggalan Masehi.
Gerhana bulan
Apabila permukana bulan terkena oleh bayang-bayang
bumi maka akan terjadi gerhana bulan dan bila bumi yang terkena bayangan bulan
maka terjadilah gerhana matahari. Para ilmuwan telah dapat memperhitungkan
dengan akurat, kapan akan terjadi gerhana bulan, tidak saja pada tahun berapa,
tapi hari, tanggal, jam bahkan perhitungan detiknya.
4. Planet Mars
Planet ini diberi nama sesuai dengan nama Dewa
Pernah orang Yunani, karena planet ini berwarna kemerah-merahan seperti darah
yang diduga tanahnya mengandung banyak besi oksigen. Pada permukana planet ini
didapatkan warna-warna hijau, biru dan sawo matang yang selalu berubah
sepanjang tahun.
Dugaan ini bertolak pada kenyataan-kenyataan berikut
ini : Berdasarkan pengamatan melalui teropong dan foto, pada permukana Mars
terdapat semacam kanal (saluran atau dam air) yang sangat panjang dan lurus
sekali. Kanal ini menghubungkan bagian Mars yang tertutup salju dengan bagian
yang panas. Bila kanal ini buatan alam, apakah mungkin selurus itu? Mars tampaknya
diselubungi oleh atmosfer. Dugaan ini bertolak dari kenyataan bahwa permukaan
Mars dari waktu ke waktu selalu tampak berbah, baik berubah dalam bentuk atau
gambar maupun wa rnanya. Fenomena ini mengarah kepada adanya tumbuhan pada
permukaanya dan adanya awan yang menyelubungi seperti layaknya di bumi.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa pada planet
Mars terdapat uap air meskipun dalam jumlah yang sangat kecil, tetapi para
pakar lebih cenderung mengatakan bahwa perubahan warna permukana planet disebabkan
oleh angin pasir, bukan oleh organisme.
Hal lain yang menarik di planet ini adalah adanya
dua buah bulan dan biasa disebut dengan nama satelit. Satelit yang kecil
diberi nama phobos. Satelit ini dekat dengan planet Mars dan hanya berjarak
3.700 mil (dibandingkan dengan jarak bumi-bulan, 240 ribu mil). Garis tengah 10
mil (16 km). ia mengadakan revolusi mengelilingi Mars dalam waktu 7 jam 39
menit, dan anehnya ia terbit dari barat, terbenam di Timur. Phobos dalam satu
hari Mars, terbit dan terbenam sebanyak 3 kali.
Satelit yang besar dinamakan deimos. Satelit ini
terbit ari timur dan terbenam di sebelah barat setelah beberapa hari. Hal ini
disebabkan karena revolusi satelit Deimos hanya berbeda sedikit lebih cepat
daripada rotasi Mars.
Fakta lain yang perlu dicatat tentang mars adalah :
a. Jarak mars ke matahari adalah 1,52
AU;
b. Bergaris tengah 3.920 mil (setengah
dari bumi);
c. Bere volusi 1,9 tahun;
d. Berotasi 24 hari 37 menit;
e. Perlu pula diketahui, bahwa menurut
data yang dikirim oleh Mariner-4, di Mars tak ada oksigen, hampir tak ada air
sedangkan kutub es yang diperkirakan mengandung banyak air, ternyata tak lebih
dari lapisan salju yang sangat tipis. Ini pula kiranya yang menjadi sebab,
mengapa pada waktu tertentu kutub yang berwarna putih itu lenyap dari pandangan
mata.
5. Planet Jupiter
Jupiter merupakan planet terbesar dalam tata surya
kita. Ia bergaris tengah 86.600 mil atau 138.560 km, mengadakan rotasi dengan
cepat yaitu 10 jam (bandingkan 24 jam untuk Bumi dan 247 hari untuk Venus). Jupiter
tampak sebagai bintang yang terang yang muncul di tengah malam. Akibat berotasi
dengan cepat, bagian ekuator lainnya menjadi sedikit mengembang dan mebentuk
sabuk yang jelas.
Berdasarkan analisis spektroskopis, planet ini
mengandung gas metana dan amo niak dalam jmlah banyak, begitu juga gas
hidrogen. Albedonnya 0,44 Bercak kemerahan bergaris tengah 30.000 mil di bagian
Selatan (telah diketahui dari tahun 1831) diperkirakan adalah suatu kawah yang
masih hidup (karena warnanya berubah-ubah). Planet ini mempunyai 14 satelit
atau bulan.
Massa planet ini sangat besar, hampir 300 kali massa
bumi dan gravitasinya, yaitu 2,6 kali gravitasi bumi. Artinya, bila suatu benda
di bumi beratnya 100 kg maka berat benda tersebut di JUPiter menjadi 260 kg.
akibat selanjutnya, ia memiliki daya tarik yang sangat kuat sehingga mampu
menarik 12 satelit atau bulan yang berukuran sangat besar. Dua diantaranya
lebih besar daripada planet Merkurius. Tiga darinya beredar berlawanan arah
dengan sembilan lainnya. Bulan-bulan tersebut memiliki lapisan atmosfer yang
cukup tebal.
6. Planet Saturnus
Planet terbesar kedua setelah Jupiter ialah
Saturnus, karena planet ini bergaris tengah 74.000 mil atau 118. 400 km dengan
kecepatan rotasi yang sama dengan Jupiter. Planet ini juga memiliki lapisan
atmosfer yang terdiri dari gas etan, amoniak dan hidrogen yang bersuhu
rata-rata 1030 C, tetapi suhu pada permukaanya sangat rendah, yakni 2430 F.
walaupun demikian, massa jenisnya sangat kecil bila dibandingkan dengan air
yakni 0,75 g/cm3.
Yang paling menarik dari planet ini ialah
ditemukannya sabuk putih yang melilit ekuatornya dengan jarak dari permukaan
sejauh 7.000 mil sampai kurang lebih 37.000 mil. Sabuk ini berbentuk pipih
setebal 10 mil, dan berupa debu. Sabuk ini ternyata berputar mengelilingi
planet dengan kecepatan yang berbeda, sabuk bagian dalam jauh lebih cepat
daripada bagian luarnya. Sabuk atau cincin in I diduga berasal dari satelit
yang tidak pernah terbentuk, karena gaya ganggu Saturnus yang besar, akibat
letaknya yang terlalu dekat dengan Saturnus sehingga calon satelit itu menjadi
tidak stabil.
Saturnus mempunyai 10 satelit dan yang terbesar
ialah titan (besarnya 2 kali bulan-bumi). Phoebe yang bergerak berlawanan arah
dengan sembilan satelit lainnya, menunjukkan bahwa phoebe bukan anak kandung
saturnus. Keanehan phoebe dan sabuk raksasa itu memperkuat Teori Tidal.
Keanehan lainnya ialah sabuk Saturnus itu itu mengembang dan merapat pada
permukaan planet 15 tahun sekali.
7. Planet Uranus
Planet ini ditemukan secara tak sengaja oleh
Herschel dan keluarga pada tahun 1781, ketika mereka sedang mengamati Saturnus.
Besarnya Uranus kurang dari setengah saturnus dengan garis tengah 50. 560 km
atau 4 kali bumi. Oleh karenanya, planet ini merupakan planet pertama yang
dapat ditangkap oleh teleskop, karena letaknya yang cukup jauh dari matahari.
Uranus memiliki lima satelit. Berbeda dengan planet
lain, rotasi Uranus bergerak dari Timur ke Barat. Jarak ke matahari adalah
2.860 juta km atau 19,2 AU, dan mengelilinginya dalam waktu 84 tahun. Kecepatan
rotasi 10 jam 47 menit. Berdasarkan pengamatan pesawat Voyager pada bulan
Januari 1986, Uranus memiliki 14 satelit. Sama seperti Venus, rotasinya
berlawanan arah dengan rotasi bumi.
8. Planet Neptunus
Neptunus ditemukan pada saat para astronom mengamati
planet baru Uranus yang orbitannya agak menyimpang dari perhitungan.
Berdasarkan Hukum Newton (gaya tarik menarik antara dua benda) diperkirakan ada
benda langit besar lain yang mempengaruhi orbit Uranus. Ternyata pengaruh
tersebut disebabkan adanya Neptunus yang merupakan planet terbesar ketiga pad
atahun 1846. Planet ini, jika dilihat dengan teleskop dari bumi berwarna
kebiru-biruan. Dari spektrum cahayanya, planet ini diketahui mempunyai atmosfer
yang sebagian besar terdiri dari gas metana.
Neptunus mempunyai dua satelit, satu diantaranya
disebut Triton.satelit Triton beredar berlawanan arah dengan gerak rotasi
Neptunus. Jarak ke matahari adalah 30,1 AU atau 4,470 juta km, bergaris tengah
28.000 mil dan mengelilingi matahari dalam waktu 165 tahun sekali putar.
3. BENDA-BENDA
LANGIT LAIN DARI TATA SURYA
1. Asteroida atau Planetoid
Pada tahun 1801, piazzi seorang astronom Italia
melalui pengamatan teleskopnya, menemukan benda langit yang berdiameter 500 mil
atau ± 900 km (bulan berdiameter 2.160 mil atau 3.000 km) beredar mengelilingi
matahari.
Pada masa ini, benda semacam itu telah diketahui
sebanyak ± 2.000 buah, berbentuk bulat-bulat kecil, yang terbesar disebut ceres
dengan diameter 750 km. benda-benda langit yang terkecil yang bisa diamati
adalah yang berdiamter 1 mil. Kelompok benda langit ini disebut planetoida atau
bkan planet untuk membedakannya dengan sembilan planet utama yang telah
dijelaskan tadi. Bila seluruh massa planetoida ini dikumpulkan, jumlahnya tidak
lebih dari 2% dari massa bulan.
2. Komet atau Bintang Berekor
Meskipun komet disebut sebagai bintang berekor,
komet bukan tergolong bintang alam dalam arti yang sebenarnya. Komet merupakan
anggota tata surya yang beredar mengelilingi matahari dan menerima energinya
dari matahari.
Komet sebenarnya merupakan kumpulan bungkahan batu
yang diselubungi oleh kabut gas. Diameter komet termasuk selubung gasnya ±
100.000 km, sedangkan diameter inti yang berupa bungkah-bungkah batu sebagian
dipantulkan, sedang lainnya berupa sinar ultra violet akan bereksitasi pad agas
yang menyelubungi komet. Akibat eksitasi ini akan terjadi resonansi atau
fluoresce nsi, dan gas akan berpendar memancarkan cahaya. Akibat tekanan cahaya
matahari, gas pendar ini akan terdorong menjauhi matahari maka terbentuklah
ekor komet. Karena komet selalu menjauhi matahari maka jika komet mendekati
matahari, ekornya dibelakang dan di depan sewaktu menjauhinya.
3. Meteor
Meteor adalah benda angkasa yang tidak mengeluarkan
cahayanya sendiri, tetapi dia bukan binatang. Jadi, semacam benda-benda
planetoida yang mungkin saja datang dari luar tata surya kita.
Meteor berupa batu-batu kecil yang bergaris tengah
antara 0,2-05 mm dan massanya tidak lebih dari 1 gram. Meteor ini semacam debu
angkasa yang bergerak dengan kecepatan rata-rata 60 km/detik atau 60 x 60 x 60
km per jam.
4. Satelit
Satelit merupakan pengiring planet. Satelit beredar
mengelilingi planet dan bersama-sama beredar mengelilingi matahari. Peredaran
satelit mengelilingi planet disebut gerak revolusi satelit. Disamping itu,
satelit juga melakukan gerak rotasi, yaiotu beredar mengelilingi sumbunya
sendiri
Pada umumnya, arah rotasi revolusi satelit sama
dengan arah rotasi dan revolusi planetnya, yaitu dari Barat ke Timur kecuali
satelit dari planet Neptunus. Planet yang telah diketahui tidak mempunyai
satelit adalah Merkurius maupun Venus.
Bulan merupakan satu satunya satelit dari planet
bumi. Kala rotasi bulan adalah satu hari, sedang kala revolusinya satu bulan.
Karena kala rotasi bulan sama dengan kala rotasi bumi, mengakibatkan permukana
bulan yang menghadap ke bumi selalu tetap.
Jarak antara bumi dengan bulan, kurang lebih 384.403
km dan merupakan benda langit yang paling dekat terhadap bumi jika dibandingkan
bumi, bulan mempunyai ukuran :
a. Massa bulan : 1/10 massa bumi
b. Garis tengah bulan : ¼ diameter bumi-3000 km
c. Gravitasi bulan : 1/6 gravitasi bumi.
4.
BUMI
SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM TATA SURYA
Bentuk dan Ukuran Bumi
Pada zaman dahulu, manusia beranggapan bahwa bentuk bumi adalah datar dan luasnya tak terhinggga. Namun pada abad ke-6 SM, seorang pemikir Yunani bernama Pythagorasberanggapan bahwa bentuk bumi menyerupai bola.
Pada abad ke-4 SM, Aristoteles meyakini bahwa bentuk bumi itu bulat.
Keyakinanya itu timbul setelah menagmati bayangan yang menutupi permukaan bulan pada waktu terjadi gerhana bulan.
Bentuk bumi yang bulat menyebabkan benda-benda yang bergerak menjauhi seorang pengamat di permukaan bumi akan tampak seolah-olah tenggelam di balik ufuk. Bumi apabila dilihat dari angkasa luar akan tampak berwarna kebiru-biruan, sehingga disebut sebagai planet biru. Warna kebiru-biruan tersebut disebabkan oleh keadaan di bumi sendiri yaitu karena 70 % permukaan bumi berupa laut dan samudra. Selain itu, susunan dan ketebalanangkasanya juga menentukan ciri khas penampakannya.
Pada saat ini telah diketahui bahwa garis tengah bumi adalah 12.714 km dari kutub ke kutub dan 12. 757 km di sepanjang garis khatulistiwa.
Pada zaman dahulu, manusia beranggapan bahwa bentuk bumi adalah datar dan luasnya tak terhinggga. Namun pada abad ke-6 SM, seorang pemikir Yunani bernama Pythagorasberanggapan bahwa bentuk bumi menyerupai bola.
Pada abad ke-4 SM, Aristoteles meyakini bahwa bentuk bumi itu bulat.
Keyakinanya itu timbul setelah menagmati bayangan yang menutupi permukaan bulan pada waktu terjadi gerhana bulan.
Bentuk bumi yang bulat menyebabkan benda-benda yang bergerak menjauhi seorang pengamat di permukaan bumi akan tampak seolah-olah tenggelam di balik ufuk. Bumi apabila dilihat dari angkasa luar akan tampak berwarna kebiru-biruan, sehingga disebut sebagai planet biru. Warna kebiru-biruan tersebut disebabkan oleh keadaan di bumi sendiri yaitu karena 70 % permukaan bumi berupa laut dan samudra. Selain itu, susunan dan ketebalanangkasanya juga menentukan ciri khas penampakannya.
Pada saat ini telah diketahui bahwa garis tengah bumi adalah 12.714 km dari kutub ke kutub dan 12. 757 km di sepanjang garis khatulistiwa.
Gerak Rotasi Bumi
Gerak bumi yang berputar mengitari porosnya sendiri disebut gerak rotasi bumi. waktu yang diperlukan bumi untuk berotasi satu kali mengitari porosnya adalah 1 hari atau 24 jam (tepatnya 23 jam, 56 menit 4,09 detik). Arah rotasi bumi adalah “arah timur” yaitu dari barat ke timur. Gerak rotasi bumi yang arahnya ke timur mengakibatkan pada siang hari matahari seolah-olah bergerak dari timur ke barat, demikian juga dengan bulan dan bintang di malam hari. Gerak benda-benda langit disebut gerak harian langit atau sering disebut gerak semu harian. Bintang dalam gerak hariannya akan kembali pada tempat yang sama di bola langit setelah menempuh waktu yang sama dengan periode rotasi bumi.
Akibat rotasi bumi terhadap porosnya yaitu pergantian siang dan malam hari, gerak semu harian benda langit, pengembungan di khatulistiwa dan pemepatan di kedua kutub bumi, dan perbedaan waktu untuk tempat-tempat yang berbeda derajat bujurnya.
Gerak bumi yang berputar mengitari porosnya sendiri disebut gerak rotasi bumi. waktu yang diperlukan bumi untuk berotasi satu kali mengitari porosnya adalah 1 hari atau 24 jam (tepatnya 23 jam, 56 menit 4,09 detik). Arah rotasi bumi adalah “arah timur” yaitu dari barat ke timur. Gerak rotasi bumi yang arahnya ke timur mengakibatkan pada siang hari matahari seolah-olah bergerak dari timur ke barat, demikian juga dengan bulan dan bintang di malam hari. Gerak benda-benda langit disebut gerak harian langit atau sering disebut gerak semu harian. Bintang dalam gerak hariannya akan kembali pada tempat yang sama di bola langit setelah menempuh waktu yang sama dengan periode rotasi bumi.
Akibat rotasi bumi terhadap porosnya yaitu pergantian siang dan malam hari, gerak semu harian benda langit, pengembungan di khatulistiwa dan pemepatan di kedua kutub bumi, dan perbedaan waktu untuk tempat-tempat yang berbeda derajat bujurnya.
Revolusi Bumi
Satu kali bumi beredar mengelilingi matahari (berevolusi) diperlukan waktu 365,25 hari atau 1 tahun. Kecepatan rata-rata bumi dalam berevolusi adalah 30 km/s, sedangkan kecepatan berotasi adalah 464 m/s.
Revolusi bumi menyebabkan beberapa peristiwa yaitu pergantian musim di bumi sepanjang tahun; perbedaan lamanya waktu siang dan malam; terlihatnya rasi bintang yang berbeda setiap bulan, hal ini karena setiap bulan posisi bumi berbeda dengan bulan sebelumnya sehingga langit di atas kepala kita pun berbeda akibatnya bintang-bintang yang tampak jadi berbeda. Kumpulan bintang dengan pola-pola tertentu disebut rasi bintang; dan adanya gerak semu tahunan matahari.
Empat musim di bumi terjadi di daerah-daerah pada belahan bumi utara dan belahan bumi selatan, sedangkan di daerah khatulistiwa tidak ada pergantian musim.
Satu kali bumi beredar mengelilingi matahari (berevolusi) diperlukan waktu 365,25 hari atau 1 tahun. Kecepatan rata-rata bumi dalam berevolusi adalah 30 km/s, sedangkan kecepatan berotasi adalah 464 m/s.
Revolusi bumi menyebabkan beberapa peristiwa yaitu pergantian musim di bumi sepanjang tahun; perbedaan lamanya waktu siang dan malam; terlihatnya rasi bintang yang berbeda setiap bulan, hal ini karena setiap bulan posisi bumi berbeda dengan bulan sebelumnya sehingga langit di atas kepala kita pun berbeda akibatnya bintang-bintang yang tampak jadi berbeda. Kumpulan bintang dengan pola-pola tertentu disebut rasi bintang; dan adanya gerak semu tahunan matahari.
Empat musim di bumi terjadi di daerah-daerah pada belahan bumi utara dan belahan bumi selatan, sedangkan di daerah khatulistiwa tidak ada pergantian musim.
5.
LAPISAN-LAPISAN
BUMI
Bumi telah terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun yang
lalu. Bumi merupakan planet dengan urutan ketiga dari sembilan planet yang
dekat dengan matahari. Jarak bumi dengan matahari sekitar 150 juta km,
berbentuk bulat dengan radius ± 6.370 km. Bumi merupakan satu-satunya planet
yang dapat dihuni oleh berbagai jenis mahluk hidup. Bumi memiliki 2 macam
lapisan, yaitu lapisan internal (dalam) dan lapisan eksternal (luar). Lapisan
dalam merupakan lapisan pembentuk bumi. Sedangkan lapisan luar merupakan
lapisan yang melindungi bumi dari meteor atau benda-benda luar angkasa lainnya.
Secara struktur lapisan dalam bumi, dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut:
1. Kerak bumi (crush) merupakan kulit bumi bagian luar (permukaan bumi). Tebal lapisan kerak bumi mencapai 70 km dan merupakan lapisan batuan yang terdiri dari batu-batuan basa dan masam. Lapisan ini menjadi tempat tinggal bagi seluruh mahluk hidup. Suhu di bagian bawah kerak bumi mencapai 1.100 oC. Lapisan kerak bumi dan bagian di bawahnya hingga kedalaman 100 km dinamakan litosfer.
2. Selimut atau selubung (mantle) merupakan lapisan yang terletak di bawah lapisan kerak bumi. Tebal selimut bumi mencapai 2.900 km dan merupakan lapisan batuan padat. Suhu di bagian bawah selimut bumi mencapai 3.000 oC.
3. Inti bumi (core), yang terdiri dari material cair, dengan penyusun utama logam besi (90%), nikel (8%), dan lain-lain yang terdapat pada kedalaman 2900 – 5200 km. Lapisan ini dibedakan menjadi lapisan inti luar dan lapisan inti dalam. Lapisan inti luar tebalnya sekitar 2.000 km dan terdiri atas besi cair yang suhunya mencapai 2.200 oC. inti dalam merupakan pusat bumi berbentuk bola dengan diameter sekitar 2.700 km. Inti dalam ini terdiri dari nikel dan besi yang suhunya mencapai 4.500 oC.
Namun sebenarnya pada saat ini ditemukan sebuah fakta bahwa bumi tidak lagi hanya mempunyai 3 lapisan, tapi 7 lapisan. Pengukuran-Pengukuran dan percobaan-percobaan terbaru menunjukkan bahwa artikel yang berisi nukleus dari bumi itu berada di bawah tekanan yang sangat tinggi, tiga juta kali lebih dari permukaan bumi. Di bawah tekanan seperti itu, zat berubah bentuk menjadi solid, dan hal ini pada waktunya membuat inti bumi itu sangat solid. Inti bumi ini dikelilingi suatu lapisan zat cair dengan suhu yang sangat tinggi. Ini berarti bahwa ada dua lapisan di dalam inti bumi, bukan satu. Satu lapisan di dalam pusat yang dikelilingi lapisan zat cair. Hal itu diketahui sesudah alat-alat pengukur dikembangkan dan memberi para ilmuwan suatu perbedaan yang jelas antar lapisan-lapisan bumi bagian dalam. Jika kita turun ke bawah bumi yang keras, kita akan menemukan lapisan batu-batu yang sangat panas, yaitu batu yang berfungsi untuk membungkus. Setelah itu ada tiga lapisan terpisah, di mana masing-masing itu berbeda kepadatan, tekanan dan suhu yang berbeda-beda.

Gambar ini menunjukkan tujuh lapisan bumi,
memberitahukan bahwa kerak bumi adalah lapisan sangat tipis yang disusul dengan
mantel dengan berbeda-beda ketebalannya, lalu disusul lapisan-lapsan yang
terdiri zat cair, dan diakhiri dengan yang lapisan ketujuh, yaitu nukleus
padat. Para ilmuwan juga menemukan bahwa atom terdiri dari tujuh lapisan atau
tingkatan, dan hal ini membuktikan keseragaman ciptaan, di mana bumi mempunyai
tujuh lapisan dan atom-atom mempunyai tujuh lapisan juga. Tujuh lapisan bumi
itu sangat berbeda-beda dari segi struktur, kepadatan, suhu dan bahannya.
Lapisan luar bumi secara keseluruhan sering disebut atmosfer. Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan yang lain berlangsung bertahap. Studi tentang atmosfer mula-mula dilakukan untuk memecahkan masalah cuaca, fenomena pembiasan sinar matahari saat terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang. Dengan peralatan yang sensitif yang dipasang di wahana luar angkasa, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang atmosfer berikut fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya. Atmosfer Bumi terdiri atas nitrogen (78.17%) dan oksigen (20.97%), dengan sedikit argon (0.9%), karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dan gas lainnya. Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari matahari dan mengurangi suhu ekstrem di antara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet.
Troposfer
Lapisan ini berada pada level yang terrendah, campuran gasnya paling ideal untuk menopang kehidupan di bumi. Dalam lapisan ini kehidupan terlindung dari sengatan radiasi yang dipancarkan oleh benda-benda langit lain. Dibandingkan dengan lapisan atmosfer yang lain, lapisan ini adalah yang paling tipis (kurang lebih 15 kilometer dari permukaan tanah). Dalam lapisan ini, hampir semua jenis cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin tekanan dan kelembaban yang kita rasakan sehari-hari berlangsung. Ketinggian yang paling rendah adalah bagian yang paling hangat dari troposfer, karena permukaan bumi menyerap radiasi panas dari matahari dan menyalurkan panasnya ke udara. Biasanya, jika ketinggian bertambah, suhu udara akan berkurang secara tunak (steady), dari sekitar 17℃ sampai -52℃. Pada permukaan bumi yang tertentu, seperti daerah pegunungan dan dataran tinggi dapat menyebabkan anomali terhadap gradien suhu tersebut.
Lapisan ini dianggap sebagai bagian atmosfer yang paling penting, karena berhubungan langsung dengan permukaan bumi yang merupakan habitat dari berbagai jenis mahluk hidup termasuk manusia, serta karena sebagain besar dinamika iklim berlangsung pada lapisan troposfer. Susunan kimia udara troposfer terdiri dari 78,03% nitrogrn, 20,99 oksigen, 0,93% argon, 0,03% asam arang, 0,0015% nenon, 0,00015% helium, 0,0001% kripton, 0,00005% hidrogen, serta 0,000005% xenon. Di dalam troposfer terdapat tiga jenis awan, yaitu awan rendah (cumulus), yang tingginya antara 0 – 2 km; awan pertengahan (alto cumulus lenticularis), tingginya antara 2 – 6 km; serta awan tinggi (cirrus) yang tingginya antara 6 – 12 km.
Troposfer terbagi lagi ke dalam empat lapisan, yaitu :
1. Lapisan Udara Dasar
Tebal lapisan udara ini adalah 1 – 2 meter di atas permukaan bumi. Keadaan di dalam lapisan udara ini tergantung dari keadaan fisik muka bumi, dari jenis tanaman, ketinggian dari permukaan laut dan lainnya. Keadaan udara dalam lapisan inilah yang disebut sebagai iklim mikro, yang memperngaruhi kehidupan tanaman dan juga jasad hidup di dalam tanah.
2. Lapisan Udara Bawah
Lapisan udara ini dinamakan juga lapisan-batasan planiter (planetaire grenslag, planetary boundary layer). Tebal lapisan ini 1 – 2 km. Di sini berlangsung berbagai perubahan suhu udara dan juga menentukan iklim.
3. Lapisan Udara Adveksi (Gerakan Mendatar)
Lapisan ini disebut juga lapisan udara konveksi atau lapisan awan, yang tebalnya 2 – 8 km. Di dalam lapisan udara ini gerakan mendatar lebih besar daripada gerakan tegak. Hawa panas dan dingin yang beradu di sini mengakibatkan kondisi suhu yang berubah-ubah.
4. Lapisan Udara Tropopouse
Merupakan lapisan transisi antara lapisan troposfer dan stratosfer terletak antara 8 – 12 km di atas permukaan laut (dpl). Pada lapisan ini terdapat derajat panas yang paling rendah, yakni antara – 46 o C sampai – 80o C pada musim panas dan antara – 57 o C sampai – 83 o C pada musim dingin. Suhu yang sangat rendah pada tropopouse inilah yang menyebabkan uap air tidak dapat menembus ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi, karena uap air segera mengalami kondensasi sebelum mancapai tropopouse dan kemudian jatuh kembali ke bumi dalam bentuk cair (hujan) dan padat (salju, hujan es).
Stratosfer
Perubahan secara bertahap dari troposfer ke stratosfer dimulai dari ketinggian sekitar 11 km. Suhu di lapisan stratosfer yang paling bawah relatif stabil dan sangat dingin yaitu – 70oF atau sekitar – 57oC. Pada lapisan ini angin yang sangat kencang terjadi dengan pola aliran yang tertentu.Disini juga tempat terbangnya pesawat. Awan tinggi jenis cirrus kadang-kadang terjadi di lapisan paling bawah, namun tidak ada pola cuaca yang signifikan yang terjadi pada lapisan ini. Dari bagian tengah stratosfer keatas, pola suhunya berubah menjadi semakin bertambah semakin naik, karena bertambahnya lapisan dengan konsentrasi ozon yang bertambah. Lapisan ozon ini menyerap radiasi sinar ultra ungu. Suhu pada lapisan ini bisa mencapai sekitar 18oC pada ketinggian sekitar 40 km. Lapisan stratopause memisahkan stratosfer dengan lapisan berikutnya.
Lapisan stratosfer dibagi dalam tiga bagian yaitu:
a. Lapisan udara isoterm; terletak antara 12 – 35 km dpl, dengan suhu udara – 50o C sampai -55o C.
b. Lapisan udara panas; terletak antara 35 – 50 km dpl, dengan suhu – 50o C sampai + 50o C.
c. Lapisan udara campuran teratas; terletak antara 50 – 80 km dpl, dengan suhu antara +50o C sampai -70o C. karena pengaruh sinar ultraviolet, pada ketinggian 30 km oksigen diubah menjadi ozon, hingga kadarnya akan meningkat dari 5 menjadi 9 x 10-2 cc di dalam 1 m3.
Mesosfer
Kurang lebih 25 mil atau 40km diatas permukaan bumi terdapat lapisan transisi menuju lapisan mesosfer. Pada lapisan ini, suhu kembali turun ketika ketinggian bertambah, sampai menjadi sekitar – 143oC di dekat bagian atas dari lapisan ini, yaitu kurang lebih 81 km diatas permukaan bumi. Suhu serendah ini memungkinkan terjadi awan noctilucent, yang terbentuk dari kristal es. Daerah transisi antara lapisan mesosfer dan termosfer disebut mesopouse dengan suhu terendah – 110o C.
Termosfer
Transisi dari mesosfer ke termosfer dimulai pada ketinggian sekitar 81 km. Dinamai termosfer karena terjadi kenaikan temperatur yang cukup tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar 1982oC. Perubahan ini terjadi karena serapan radiasi sinar ultra ungu. Radiasi ini menyebabkan reaksi kimia sehingga membentuk lapisan bermuatan listrik yang dikenal dengan nama ionosfer, yang dapat memantulkan gelombang radio. Sebelum munculnya era satelit, lapisan ini berguna untuk membantu memancarkan gelombang radio jarak jauh. Molekul oksigen akan terpecah menjadi oksegen atomik di sini. Proses pemecahan molekul oksigen dan gas-gas atmosfer lainnya akan menghasilkan panas, yang akan menyebabkan meningkatnya suhu pada lapisan ini. Suhu pada lapisan ini akan meningkat dengan meningkaknya ketinggian.
a. Lapisan udara isoterm; terletak antara 12 – 35 km dpl, dengan suhu udara – 50o C sampai -55o C.
b. Lapisan udara panas; terletak antara 35 – 50 km dpl, dengan suhu – 50o C sampai + 50o C.
c. Lapisan udara campuran teratas; terletak antara 50 – 80 km dpl, dengan suhu antara +50o C sampai -70o C. karena pengaruh sinar ultraviolet, pada ketinggian 30 km oksigen diubah menjadi ozon, hingga kadarnya akan meningkat dari 5 menjadi 9 x 10-2 cc di dalam 1 m3.
Mesosfer
Kurang lebih 25 mil atau 40km diatas permukaan bumi terdapat lapisan transisi menuju lapisan mesosfer. Pada lapisan ini, suhu kembali turun ketika ketinggian bertambah, sampai menjadi sekitar – 143oC di dekat bagian atas dari lapisan ini, yaitu kurang lebih 81 km diatas permukaan bumi. Suhu serendah ini memungkinkan terjadi awan noctilucent, yang terbentuk dari kristal es. Daerah transisi antara lapisan mesosfer dan termosfer disebut mesopouse dengan suhu terendah – 110o C.
Termosfer
Transisi dari mesosfer ke termosfer dimulai pada ketinggian sekitar 81 km. Dinamai termosfer karena terjadi kenaikan temperatur yang cukup tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar 1982oC. Perubahan ini terjadi karena serapan radiasi sinar ultra ungu. Radiasi ini menyebabkan reaksi kimia sehingga membentuk lapisan bermuatan listrik yang dikenal dengan nama ionosfer, yang dapat memantulkan gelombang radio. Sebelum munculnya era satelit, lapisan ini berguna untuk membantu memancarkan gelombang radio jarak jauh. Molekul oksigen akan terpecah menjadi oksegen atomik di sini. Proses pemecahan molekul oksigen dan gas-gas atmosfer lainnya akan menghasilkan panas, yang akan menyebabkan meningkatnya suhu pada lapisan ini. Suhu pada lapisan ini akan meningkat dengan meningkaknya ketinggian.
Ionosfer dibagi menjadi tiga lapisan lagi, yaitu:
a. Lapisan Udara E
Terletak antara 80 – 150 km dengan rata-rata 100 km dpl. Lapisan ini tempat terjadinya proses ionisasi tertinggi. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara KENNELY dan HEAVISIDE dan mempunyai sifat memantulkan gelombang radio. Suu udara di sini berkisar – 70o C sampai +50o C .
b. Lapisan udara F
Terletak antara 150 – 400 km. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara APPLETON.
c. Lapisan udara atom
Pada lapisan ini, benda-benda berada dalam lbentuk atom. Letaknya lapisan ini antara 400 – 800 km. Lapisan ini menerima panas langsung dari matahari, dan diduga suhunya mencapai 1200o C
Fenomena aurora yang dikenal juga dengan cahaya utara atau cahaya selatan terjadi di lapisan ini.
Eksosfer
Merupakan lapisan atmosfer yang paling tinggi. Pada lapisan ini, kandungan gas-gas atmosfer sangat rendah. Batas antara ekosfer (yang pada dasarnya juga adalah batas atmosfer) dengan angkasa luar tidak jelas. Daerah yang masih termasuk ekosfer adalah daerah yang masih dapat dipengaruhi daya gravitasi bumi. Garis imajiner yang membatasi ekosfer dengan angkasa luar disebut magnetopause. Adanya refleksi cahaya matahari yang dipantulkan oleh partikel debu meteoritik. Cahaya matahari yang dipantulkan tersebut juga disebut sebagai cahaya Zodiakal.
a. Lapisan Udara E
Terletak antara 80 – 150 km dengan rata-rata 100 km dpl. Lapisan ini tempat terjadinya proses ionisasi tertinggi. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara KENNELY dan HEAVISIDE dan mempunyai sifat memantulkan gelombang radio. Suu udara di sini berkisar – 70o C sampai +50o C .
b. Lapisan udara F
Terletak antara 150 – 400 km. Lapisan ini dinamakan juga lapisan udara APPLETON.
c. Lapisan udara atom
Pada lapisan ini, benda-benda berada dalam lbentuk atom. Letaknya lapisan ini antara 400 – 800 km. Lapisan ini menerima panas langsung dari matahari, dan diduga suhunya mencapai 1200o C
Fenomena aurora yang dikenal juga dengan cahaya utara atau cahaya selatan terjadi di lapisan ini.
Eksosfer
Merupakan lapisan atmosfer yang paling tinggi. Pada lapisan ini, kandungan gas-gas atmosfer sangat rendah. Batas antara ekosfer (yang pada dasarnya juga adalah batas atmosfer) dengan angkasa luar tidak jelas. Daerah yang masih termasuk ekosfer adalah daerah yang masih dapat dipengaruhi daya gravitasi bumi. Garis imajiner yang membatasi ekosfer dengan angkasa luar disebut magnetopause. Adanya refleksi cahaya matahari yang dipantulkan oleh partikel debu meteoritik. Cahaya matahari yang dipantulkan tersebut juga disebut sebagai cahaya Zodiakal.
5.
TEORI
TENTANG TERJADINYA PLANET
Tata surya atau sistem Matahari (dalam bahasa
Inggris disebut Solar System) adalah suatu sistem yang terdapat di jagat
raya terdiri atas Matahari sebagai pusatnya, planet-planet (termasuk
Planet Bumi), satelit-satelit (misalnya Bulan), asteroid, komet, meteor, debu,
kabut, dan benda-benda lainnya sebagai anggota dari tata surya yang beredar
mengelilingi pusatnya, yakni matahari pada orbit atau garis edarnya
masing-masing. Dari benda-benda di tata surya, benda yang memancarkan cahayanya
sendiri hanyalah Matahari sedangkan benda lainnya hanya memantulkannya.

Tata Surya
Nah, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana tata
surya terbentuk? Manusia sudah meneliti bagaimana tata surya terbentuk sejak
zaman dahulu. Beberapa teori telah diajukan oleh para ahli untuk menjelaskan
pembentukan tata surya. Namun, sampai sekarang belum ada satu pun teori yang
memberi jawaban yang benar-benar memuaskan. Berikut ini adalah beberapa teori
tentang pembentukan tata surya.
Teori Kabut/Nebula
Teori Nebula
Teori ini mengatakan bahwa anggota tata surya
awalnya berbentuk massa gas raksasa yang bersuhu tinggi dan berputar
perlahan-lahan. Massa ini berangsur-angsur mendingin, mengecil, dan mendekati
bentuk bola. Rotasi massa ini semakin lama semakin tinggi. Akibatnya, bagian
tengah massa itu menggelembung. Akhirnya, lingkaran materi itu terlempar
keluar. Lingkaran ini mendingin, mengecil, dan akhirnya menjadi planet.
Planet ini tetap mengorbit mengelilingi inti massa.
Lalu, lingkaran lain terlempar dan terlempar lagi dari pusat massa dan menjadi
seluruh planet, termasuk Bumi. Akhirnya, semua planet terbentuk. Pusat massa
menjadi Matahari kita. Selanjutnya, planet-planet itu juga melemparkan massa
keluar angkasa dan berubah menjadi satelit atau bulan.
Teori Nebula dikemukakan
pada abad ke-18 oleh Immanuel Kant (1724–1804) yang kemudian diperkuat oleh
Pierre Simon de Laplace (1749–1827). Meskipun keduanya tidak saling mengenal
namun pendapat Laplace merupakan penjelasan dari pendapat Kant. Sehingga teori
Nebula ini disebut juga dengan teori Kant-Laplace.
Teori
Planetesimal
Teori Planetesimal
Teori ini menyatakan bahwa
suatu ketika sebuah bintang melintasi ruang angkasa dengan cepat dan berada
dekat sekali dengan Matahari. Daya tarik bintang ini sangat besar sehingga
menyebabkan pasang di bagian gas panas Matahari. Akibatnya, massa gas terlempar
dari Matahari dan mulai mengorbit. Karena daya tarik Matahari, massa gas itu
tertahan dan bergerak mengelilingi Matahari. Massa gas yang terlempar inilah
yang disebut dengan planetesimal.
Ketika massa gas menjadi
dingin, bentuknya berubah menjadi cairan kemudian memadat. Akhirnya, massa gas
itu menjadi planet yang ada sekarang.
Teori planetesimal
dikemukakakan pada sekitar tahun 1900 oleh seorang astronom bernama Forest Ray
Moulton dan seorang ahli geologi bernama T.C. Chamberlain dari Universitas
Chicago.
Teori
Tidal/Pasang Surut
Teori Pasang Surut
Teori ini awalnya hampir
sama dengan teori planetesimal, yaitu terdapat sebuah bintang yang bergerak
mendekati Matahari lalu gas asli matahari tertarik oleh bintang tersebut.
Perbedaan dengan teori planetesimal adalah bahwa pada teori ini planet tidak
terbentuk oleh planetesimal. Planet-planet terbentuk langsung oleh gas asli
Matahari tersebut.
Teori ini disusun pada tahun
1918 oleh Sir James Jeans dan Sir Harold Jeffreys dari Inggris. Teori ini juga
didasarkan atas ide benturan. Berbeda dengan Moulton dan Chamberlain, kedua
ilmuwan itu tidak percaya bahwa planet berasal dari sejumlah benda alam
kecil-kecil atau planetesimal. Mereka berpendapat bahwa planet itu langsung
terbentuk dari massa gas asli yang ditarik dari matahari oleh bintang yang
lewat.
Teori Bintang
Kembar
Teori Bintang Kembar
Teori ini mengemukakan bahwa
awalnya Matahari merupakan bintang kembar yang satu dengan lainnya saling
mengelilingi. Pada suatu masa, melintas bintang lain dan menabrak salah satu
bintang kembar tersebut kemudian menghancurkannya menjadi bagian-bagian kecil
yang terus berputar dan mendingin menjadi planet-planet yang mengelilingi
bintang yang tetap bertahan, yaitu Matahari.
Teori Bintang Kembar ini
dikemukakan oleh seorang astronom berkebangsaan Inggris yang bernama Lyttleton
(1930). Teori ini merupakan modifikasi dari teori benturan yang telah ada
sebelumnya. Dalam beberapa hal, teori ini memberikan penjelasan yang lebih baik
tentang asal Tata Surya berdasarkan teori benturan.
Teori Awan Debu
Teori Awan Debu
Teori ini menyatakan bahwa
tata surya berasal dari awan yang sangat luas yang terdiri dari debu dan gas
(hidrogen dan helium). Adanya ketidakteraturan dalam awan tersebut menyebabkan
terjadinya penyusutan karena gaya tarik menarik dan gerakan perputaran yang
sangat cepat dan teratur sehingga terbentuklah piringan seperti cakram. Inti
cakram yang menggelembung kemudian menjadi Matahari, sedangkan bagian
pinggirnya berubah bentuk menjadi planet-planet.
Teori ini dikemukakan oleh
Von Weizsaecker(1945) dan G.P. Kuiper(1950). Jika ditinjau dari prosesnya,
teori ini seperti pengembangan dari teori Nebula. Ahli astronomi lainnya yang
mengemukakan teori awan debu antara lain F.L Whippel dari Amerika Serikat dan
Hannes Alven dari Swedia. Menurut mereka pada mulanya Matahari berputar dengan
cepat dengan piringan gas di sekelilingnya.
Teori-teori di atas hanyalah
sedikit dari banyak teori yang telah diajukan para ahli tentang terjadinya
Bumi. Tidak satu pun di antara teori tersebut yang dianggap benar-benar
memuaskan dan dapat diterima secara luas oleh seluruh dunia. Masing-masing
teori ini mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Artikel di atas diringkas
dari buku-buku BSE yang diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Kemdikbud dan dapat diunduh
secara gratis di BSE Kemdikbud.
Gambar-gambar dari NASA berada di domain publik di mana kebijakan hak cipta
NASA mengatakan bahwa “Materi dari NASA tidak dilindungi undang-undang kecuali
tercatat di dalamnya”
Daftar Pustaka:
1. Anjayani, Ani, Haryanto, Tri. 2009. Geografi : Untuk Kelas X SMA/MA. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
2. Hartono. 2009. Geografi 1 Jelajah Bumi dan Alam Semesta : untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
3. Endarto, Danang. 2009. Geografi 1 : Untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
https://mahadua.wordpress.com/2014/02/24/teori-terbentuknya-alam-semesta/
http://farhananggriawan.blogspot.co.id/2014/04/tugas-1-alam-semesta-dan-isinya-baik.html






Tidak ada komentar:
Posting Komentar